Lebih dari setahun yang lalu saya membuat keputusan yang ternyata adalah kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan. Berkarir dari bawah, boleh dikatakan saya agak cepat bergerak ke level manajerial. Orang yang awalnya menjadi atasan perlahan menjadi selevel, dan kemudian malah menjadi bawahan. Keadaan ini memberikan tekanan yang cukup berat, karena bekas atasan tersebut tidak bisa menerima begitu saja. Di atas kertas memang ia adalah bawahan, akan tetapi dalam keseharian ia masih merasa sebagai atasan. Sehingga banyak sekali pekerjaan 'bawahan' yang terbengkalai karena 'beliau' tidak mau mengerjakannya.
Dengan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan sementara tidak ada asisten yang bisa membantu, maka saya mengusulkan ke manajemen perusahaan untuk menambah staf baru yang 'mau' bekerja. Setelah melalui proses yang tidak mengenakkan, akhirnya manajemen perusahaan memindahkan 'bekas atasan' tersebut ke departemen lain dan menyetujui perekrutan staf baru. Tentu saja saya senang sekali akan hal ini, seakan lepas dari tindihan bongkah batu besar selama ini, akhirnya bisa bernafas lega. Namun mimpi buruk ini ternyata belum berakhir.
Pencarian staf baru berakhir pada rekomendasi atasan saya, manajer senior di perusahaan. Orang yang direkomendasikan ternyata saya kenal, sehingga keputusan mudah sekali diambil. Orang ini juga punya hubungan keluarga dengan bos. Secara positif dan naif saya berpikir, punya bawahan keluarga bos, juga telah saya kenal yang berarti teman, apa yang bisa salah dari semua ini. Jika perlu keputusan bos, tentu saja saya bisa memanfaatkan teman yang jadi bawahan ini untuk membujuknya. Bukan berarti saya ingin menyalahgunakan hubungan, akan tetapi saya tahu ini bisa membantu saya untuk tidak menghabiskan waktu mencari-cari alasan non teknis untuk meyakinkan bos menjalankan proyek tertentu misalnya. Alih-alih saya bisa memanfaatkan waktu dan tenaga tersebut untuk fokus di hal-hal teknis yang lebih penting. Maka diterimalah dengan gembira 'teman' yang direkomendasikan bos ini sebagai asisten.
Pada minggu pertama teman ini bekerja menjadi staf, satu tanda mulai terlihat. Ia menunjukkan tanda tidak bisa bekerja sedikit kotor seperti masuk ke kolong meja untuk memasang kabel atau naik ke atas langit-langit untuk memasang sesuatu. Saya yang masih positif berpikir, orang bisa berubah. Dia layak mendapat kesempatan lain. Mungkin secara fisik dia tidak bisa bekerja berat, tapi kemampuan otaknya seharusnya bagus, bisa mengorganisir 'paperwork' yang bertumpuk misalnya. Atau membuat program aplikasi kecil untuk keperluan kantor.
Belum genap satu bulan teman ini bekerja sudah begitu banyak hal-hal negatif yang ditunjukkan. Level kemalasan yang mencapai tingkat sempurna. Ini ditunjukkan dengan kemampuannya mencari-cari alasan untuk menghindari pekerjaan. Kemalasan yang paling nyata ditunjukkan pada saat ia enggan menggunakan kereta sorong untuk membantu menyelesaikan pekerjaan. Alasannya hanya karena kereta sorong tersebut tersimpan di gudang, di atasnya ada setumpuk kotak yang harus diturunkan. Hanya pemalas sejati yang bisa memikirkan hal ini.
Baiklah, mungkin ia hanya malas pada pekerjaan yang bersifat fisik, ia pasti bagus pada hal-hal yang tidak perlu kerja fisik, pikir saya. Ternyata salah besar. Kemalasannya ternyata sudah masuk ke tulang sampai ke sumsum. Ruangan berantakan, peralatan kerja tidak disimpan kembali, sehingga banyak sekali alat-alat yang dibutuhkan bekerja hilang begitu saja entah ke mana. Walaupun ada yang bisa ditemukan, sudah menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk mencarinya. Padahal pekerjaan bisa diselesaikan dalam beberapa menit jika peralatannya ada.
Begitu malasnya ia, sampai-sampai malas untuk mengingat. Ia selalu 'lupa' bahwa ia punya tugas-tugas rutin yang harus dikerjakan setiap hari. Adalah menjadi tugas saya sebagai atasan mengawasinya. Celakanya tugas yang lalai dikerjakan hanya sekedar menghidup-matikan peralatan. Tugas ini hanya perlu dilakukan dengan satu jari menekan tombol 'on-off', tidak lebih. Hal sekecil ini harus diperiksa setiap hari, bukankah sama saja dengan saya kerjakan sendiri. Maka jadilah saya penjaga bayi cengeng yang tidak bisa menghidupkan atau mematikan televisi.
Terlalu banyak hal negatif yang bisa diceritakan, yang akan membuat artikel ini menjadi sebuah cerita bersambung. Namun ternyata belum cukup banyak untuk meyakinkan bos, bahwa teman bawahan ini tidak layak bekerja. Alih-alih mendapatkan bantuan untuk menasehati teman ini, malah saya sendiri yang mendapat teguran. Menerima teman ini menjadi bawahan sungguh suatu keputusan yang salah. Pernah terpikir untuk kembali mengusulkan staf baru, tetapi itu telah saya lakukan sekali. Kembalilah saya pada titik awal masalah, pekerjaan yang berlebihan, dan bawahan yang tidak bekerja.
Apapun alasannya, jangan terima rekomendasi dari bos, orang yang akan menjadi bawahan kita, apalagi orang tersebut punya hubungan keluarga dengan bos. Lebih baik tidak enak dengan bos di awal-awal dan hanya sekali daripada menyesal selama kita bekerja di sana. Tidak ada sedikit pun yang berguna punya bawahan yang memiliki hubungan keluarga dengan bos. Meskipun tidak punya hubungan keluarga dengan bos, suatu saat bawahan ini berbuat kesalahan, maka bos akan tutup mata karena merasa orang tersebut direkomendasikannya. Mengakui kesalahan orang yang direkomendasikan tentu akan membuat bos malu sendiri.
Medan, 11 January 2008, saat sadar bahwa kita hanya bisa menilai seseorang setelah melihat ia bekerja.
Post new comment